ISOLASI DAN PENENTUAN KADAR SITRONELAL DARI DAUN SEREH WANGI (Cymbopogan nardus) DENGAN METODE STEAM DISTILLATION
1. Latar Belakang
Minyak atsiri, atau dikenal juga sebagai minyak eteris (aetheric oil), minyak esensial, minyak terbang, serta minyak aromatik, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Minyak atsiri merupakan bahan dasar dari wangi-wangian atau minyak gosok (untuk pengobatan) alami (http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_atsiri).
Indonesia termasuk negara penghasil minyak atsiri dan minyak ini juga merupakan komoditi yang menghasilkan devisa negara. Oleh karena itu pada tahun-tahun terakhir ini, minyak atsiri mendapat perhatian yang cukup besar dari pemerintah Indonesia. Sampai saat ini Indonesia baru menghasilkan sembilan jenis minyak atsiri yaitu: minyak cengkeh, minyak kenanga, minyak nilam, minyak akar wangi,minyak pala, minyak kayu putih dan minyak sereh wangi. Dari sembilan jenis minyak atsiri ini terdapat enam jenis minyak yang paling menonjol di Indonesia yaitu: minyak pala minyak nilam, minyak cengkeh dan minyak sereh wangi (Ginting, 2004).
Minyak sereh merupakan komoditi di sektor agribisnis yang memiliki pasaran bagus dan berdaya saing kuat di pasaran luar negeri. Tetapi tanaman sereh ini masih banyak yang belum digarap untuk siap diinvestasi. Sebagai contoh tanaman sereh wangi, tanaman penghasil minyak atsiri yang dalam perdagangan dikenal dengan nama "ei tronella oil". Nama ini masih asing bagi sebagian orang, sebab hampir sepuluh tahun lebih sereh wangi luput dari perbincangan dan perhatian orang (Anonimous, 1988).
Penyebab bau utama yang menyenangkan pada minyak sereh wangi adalah sitronelal, yang merupakan bahan dasar untuk pembuatan parfum, oleh kerena itu minyak sereh dengan kadar sitronelal yang tinggi akan lebih digemari. Jenis minyak yang demikian akan diperoleh dari fraksi pertama penyulingan. Khususnya di Indonesia, minyak sereh wangi yang diperdagangkan diperoleh dengan cara penyulingan daun tanaman Cymbopogon nardus. Untuk keperluan ekspor, minyak sereh harus mempunyai kadar geraniol minimum 85%, kadar sitronelal minimum 35% dan tidak mengandung zat asing (Kardinan,2005).
Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengisolasi dan mengetahui kadar sitronelal dari daun sereh wangi yang terdapat di pulau Lombok.
2. Metode penelitian
Penyulingan minyak sereh wangi di Indonesia biasanya dilakukan dengan menggunakan uap air (steam distillation) yaitu dengan dua cara, secara langsung dan secara tidak langsung.
Pada penyulingan secara langsung, bahan atau daun sereh wangi yang akan diambil minyaknya dimasak dengan air, dengan demikian penguapan air dan minyak berlangsung bersamaan. Kendati penyulingan langsung seolah-olah memudahkan penanganan tetapi ternyata mengakibatkan kehilangan hasil dan penurunan mutu. Penyulingan langsung dapat mengakibatkan teroksidasi dan terhidrolisis, selain itu menyebabkan timbulnya hasil sampingan yang tidak dikehendaki.
Pada penyulingan secara tidak langsung, yaitu dengan cara memisahkan penguapan air dengan penguapan minyak. Bahan tumbuhan diletakkan ditempat tersendiri yang dialiri uap air, atau secara lebih sederhana bahan tumbuhan diletakkan di atas air mendidih. (Harris, 1987).
Metode yang kami gunakan yaitu steam distillation secara tidak langsung.
3. Alat dan Bahan penelitian
Alat-alat
- Gelas ukur
- Corong pemisah
- Alat pemanas elektrik
- Neraca analitik
- Erlemmeyer
- Buret
- Pipet volum
- pipet tetes
- Kertas saring
- Kondensor
- Water bath
- Ketel penyulingan
- Kompor gas
- Labu ukur
Bahan-bahan
- Daun sereh wangi (Cymbopogmn nardus) yang diperoleh dari Sandik, kecamatan batu layar, kabupaten Lombok Barat
- HCl 0,5 N
- Alkohol 95%
- Aquades
- Hidroksi Amonium klorida dalam etanol
- KOH 0,5 N dalam etanol 95%
- Brom fenol blue lart dalam etanol
- Asetat anhidrid 98 - 100%
- Natrium bikarbonat
4. Pelaksanaan Penelitian
4.1 Penyediaan Bahan Penelitian
Tanaman sereh wangi yang telah berumur kurang lebih enam bulan dipanen (Pemanenan dilakukan dengan memotong helai daun tiga sentimeter di atas pelepah daun)
kemudian dikering anginkan atau dilayukan selama 3 hari 3 malam.
4.2 Penyulingan
Daun sereh wangi yang telah dilayukan kemudian dirajang
300 gram daun sereh wangi yang telah dirajang dimasukkan ke dalam alat penyuling
diisi air sebanyak 2.250 ml
alat penyuling dihubungkan dengan kondensor yang dilengkapi dengan sirkulasi air
hidupkan air pet dan disuling selama 4 jam dengan suhu ± 60 -70 OC
Cairan hasil kondensasi yang terdiri dari campuran air dan minyak dipisahkan dengan membuka keran tabung
Sumber : c.chamomile.co.uk 1996/2006
Gambar rangkaian alat steam distillation
Isolasi Sitronelal
Untuk mengisolasi kandungan sitronelal, minyak atsiri hasil destilasi direaksikan dengan larutan jenuh natrium bisulfit (NAHSO3) sehingga terbentuk dua lapisan kemudian disaring dengan corong pisah. Endapan putihnya diekstraksi dengan pentana kemudian difiltrasi. Endapan hasil filtrasi direaksikan dengan larutan Na2CO3 untuk memisahkan sitronelal dengan air kemudian disaring.
5. Penentuan Kadar Sitronelal
5.1 Rendemen (%)
Destilat yang dihasilkan ditampung dengan erlenmeyer 500 ml, kemudian dipindahkan keburet untuk memisahkan minyak dengan air. Minyak yang diperoleh ditimbang beratnya dengan neraca analitik.
Rendemen (%) = x 100 %
5.2 Total Citonellal (%)
20 ml larutan hidroksil amin klorida ditambah 10 ml larutan KOH 0,5 N alkoholik dan dimasukkan ke dalam sebuah labu erlemmeyer
campuran ini dituangkan ke dalam erlemmeyer yang berisi 0,8 gr minyak.
Kemudian erlemmeyer yang bekas larutan tadi disimpan dengan tanpa mencucinya
campuran dan minyak ditambahkan brom fenol blue 2 tetes
dititrasi dengan 0,5N HCl sampai terjadi warna kuning kehijau-hijauan
kemudian dipindahkan separuh dari campuran ini ke dalam erlemmeyer yang disimpan tadi
titrasi dengan HCl 0,5 N sampai terjadi warna kuning muda
dipindahkan lagi ke dalam labu yang satu lagi, dan dicampur
dikembalikan lagi separuh dari larutan ke dalam erlemmeyer yang satu lagi
titrasi lagi dengan HCl 0,5 N
dilanjutkan cara ini sampai suatu saat penambahan 0,5 N HCl ke dalam erlemmeyer tidak lagi menimbulkan perubahan warna bila dibandingkan dengan warna larutan yang terdapat didalam erlemmeyer ke dua,
kemudian buat blankonya ( 0,8 g minyak ditambah dengan 2 tetes brom fenol blue kemudian dititrasi dengan 0,5 N)
Total Citronellal (%) = fk
M = Berat molekul citronellal
m = Massa minyak
V0 = Volume 0,5 N HCl untuk penentuan
V1 = Volume 0,5 N HCl untuk blanko
fk = 0,8892
sumber : Sentosa Ginting, 2004
Tidak ada komentar:
Posting Komentar